Minggu, 31 Agustus 2014

Terbuai Indahnya Surga… (Kisah Nabi Idris as)

PERISTIWA pembunuhan Habil oleh Qabil, memunculkan potensi kejahatan manusia di bumi. Sejak saat itu, bumi tidak lagi hanya dihuni oleh ‘kebaikan’ (orang-orang yang baik). Untungnya, tidak lama setelah peristiwa ini, nabi Adam as dan Siti Hawa dikaruniai putra bernama Syits, yang memiliki tabiat yang menyerupai kakaknya, Habil. Dari keturunan (Nabi) Syits inilah kemudian lahir nabi Idris as yang ditugaskan Allah Swt. memberi peringatan pada keturunan Qabil (bani Qabil).

Nabi Idris as adalah keturunan keenam nabi Adam as. Silsilah lengkapnya adalah Idris bin Yared bin Mahalail (Mahalaleel) bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam as. Nabi Idris as dikenal dengan nama Akhnukh (Alkitab: Henokh), diperkirakan hidup antara tahun 4533 sampai 4188 SM. Ia lahir dan tinggal di Babil, Iraq. Ada juga yang menyebut ia lahir dan tinggal di Munaf, Mesir. Mungkin saja, pada zaman Nabi Idris as Iraq dan Mesir masih merupakan satu kesatuan wilayah (belum terpisah seperti saat ini). Dalam Quran, nama Idris disebut dua kali, dalam Surah Maryam ayat 56-57 dan Surah al-Anbiya ayat 85-86. 
Nabi Idris as dikaruniai Allah Swt dengan beberapa kepandaian, di antaranya ilmu hitung, ilmu perbintangan, menunggang kuda dan menjahit pakaian. Sejak kecil ia sudah pandai membaca Sahifah (lembaran tertulis) yang diajarkan ayahnya. Ia kemudian menerima wahyu dari Allah Swt melalui malaikat Jibril sebanyak 30 Sahifah yang berisi ajaran agama yang harus disampaikan pada ummatnya, Bani Qabil. Selama menjadi nabi, ia pernah menyelamatkan ummatnya dari azab Allah berupa kemarau panjang. Ada yang mengatakan usia Nabi Idris as 345 tahun, ada yang mengatakan 308 tahun, tapi ada juga yang mengatakan ia mendampingi ummatnya hanya sampai usia 82 tahun.
Nabi Idris as adalah salah satu hamba pilihan Allah Swt, yang diangkat ke langit untuk menyaksikan Surga dan Neraka dalam keadaan hidup. Melalui Nabi Idris as, Allah Swt mengingatkan pada ummat manusia bahwa Surga dan Neraka itu ada. Bahwa kejahatan pada akhirnya akan berujung Neraka dan kebaikan akan mengantar seseorang ke Surga. Tapi, setelah menyaksikan Neraka dan merasakan berada dalam Surga, Nabi Idris as tak ingin lagi kembali pada ummatnya dan memohon kepada Allah untuk tetap berada dalam Surga dan Allah mengabulkannya!
.
Dalam perkembangan terkini, ada dugaan Nabi Idris adalah Sidharta Budha Gautama karena adanya persamaan konteks waktu, tempat dan sejarah hidup antara keduanya…
.
Para ulama tafsir menjelaskan, Nabi Idris as diwafatkan di salah satu Surga, yaitu di langit keempat. Dalam salah satu hadits riwayat Abbas bin Malik disebukan Nabi Muhammad SAW sempat bertemu dengan Nabi Idris di Syurga keempat pada peristiwa Isra Mi’raj (HR Bukhari).
Itulah Nabi Idris as. Mendapat keistimewaan menyaksikan Neraka dan merasakan Surga sebelum kematian. Dan akhirnya diberi rahmat untuk tinggal di Surga, di langit keempat. Berikut ini adalah beberapa nasihat Nabi Idris yang ditinggalkan untuk ummatnya:
(1) Kesabaran yang disertai iman kepada Allah (akan) membawa kemenangan;
(2) Orang yang bahagia adalah orang yang waspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal salehnya;
(3) Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa, maka ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula (untuk) puasa dan salatmu;
(4) Janganlah bersumpah palsu dan janganlah menutup-nutupi sumpah palsu supaya kamu tidak ikut berdosa;
(5) Taatlah kepada rajamu dan tunduklah kepada pembesarmu serta penuhilah selalu mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah;
(6) Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya;
(7) Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya;
(8) Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.
Nabi Idris as terkenal karena kecerdasannya. Itulah alasan Allah Swt. menyebutnya Idris (bahasa Arab: Daras, artinya rajin belajar). Dalam sejarah peradaban manusia di muka bumi, Nabi Idris-lah yang menemukan dan memperkenalkan tradisi menulis (baca juga artikel ini: Penulis Pertama di Bumi). Kitab Henokh yang sangat populer dan kontroversial diduga merupakan karya Nabi Idris as. Kitab ini antara lain berisi penjelasan tentang Lemuria, Atlantis, yang tenggelam di lautan pasifik (mengenai hal ini, baca juga artikel ini: Nabi Idris Menulis tentang Lemuria?). Dalam perkembangan terkini, ada teori yang menduga Nabi Idris as adalah Sidharta Budha Gautama karena adanya persamaan konteks waktu, tempat dan sejarah hidup (baca artikelnya: ini dan ini). Teori ini memang kontroversial, tapi sebagai wacana, tidak ada salahnya untuk dibaca. Toh, kebenaran pada akhirnya hanya milik Allah Swt.

Nabi Sulaiman Meninggal di Indonesia?





Nabi Sulaiman Meninggal di Indonesia? SEORANG ahli matematika Islam asal Indonesia KH Fahmi Basya Hamdi menyakini jika Nabi Sulaiman, atau Solomo Raja Israel, meninggal di Indonesia, tepatnya di Borobudur, Jawa Tengah.

Pernyataan mengejutkan itu bukan tanpa alasan, sebab selama 33 tahun Basya telah melakukan penelitian dan telah membukukan penemuannya. Buku berjudul Borobudur dan Peninggalan Nabi itu bahkan telah dicetak sebanyak tujuh kali oleh Zaytuna.

Menurut Basya, Nabi Sulaiman yang lahir sekitar 975-935 SM, tidak meninggal di Rahbaam, Baitul Maqdis-Palestina, seperti yang diketahui oleh masyarakat umum saat ini. Tetapi di puncak Borobudur.

"Mengapa khiyam No6 yang ada di Borobodur dibiarkan kosong tidak ada tamasilnya. Karena Nabi Sulaiman wafat di sini," tegas KH Fahmi Basya, sambil merujuk pada relief seseorang memegang tongkat, di lantai tiga dari atas Borobudur.

Untuk menguatkan teorinya, Basya mengutip firman Allah yang berisi, takala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (jin) setelah kematiannya itu, melainkan rayap yang memakan tongkatnya.

"Maka takala ia telah tersungkur, nyatalah bagi jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan, mendapatkan tempatnya," demikian firman Allah.

Dalam penelitian itu, Basya tidak hanya menjungkirbalikkan kepercayaan masyarakat umum tentang sejarah Borobudur dan Nabi Sulaiman. Tetapi juga menawarkan wacana baru tentang silsilah Nabi Sulaiman.

Dikatakannya, Ibu Nabi Sulaiman, Batsyeba binti Eliam (janda Uria orang Het yang dinikahi Raja Daud ayah Sulaiman) merupakan orang Jawa. Makanya Batsyeba memberi nama anaknya Sulaiman yang artinya hamba yang baik.

Dalam bahasa Jawa, nama Sulaiman diambil dari kata Su dan Man yang berarti hamba yang baik. Tentang arti nama itu, Basya kembali menggunakan ayat Alquran yang menyebutkan, bahwa Sulaiman adalah sebaik-baiknya hamba (38.30).

Tidak hanya itu, dalam penelitiannya Basya juga mengungkapkan, bahwa catatan sejarah yang menyatakan Borobudur peninggalan kerajaan umat Budha, karena reliefnya banyak berkisah tentang ajaran umat Budha, tidak seluruhnya benar.

Setelah dipelajarinya, relief yang ada dalam Borobudur sangat bernuansa kitab dan ajaran Budha yang ada dalam relief Borobudur sangat dimungkinkan ada dalam kitab Zabur, seperti yang ditemukannya saat melakukan penelitian.

"Kalau ada orang mengatakan bahwa sebagian kisah Budha ada di Borobudur, berarti kisah Budha ada dalam kitab Zabur atau sebagian dari Zabur digambarkan di sini (Borobudur)," tegasnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa Istana Nabi Sulaiman yang digambarkan sangat indah dalam Alquran, sebagai peninggalan dari Raja Daud bisa berada di mana saja. Termasuk di Indonesia, jika merujuk kepada bukti-bukti yang ditemukannya.

"Kerajaan Daud yang diwarisi Nabi Sulaiman bisa (berada) di mana saja," terangnya, sambil menunjuk Negeri Saba yang hilang di zaman Nabi Sulaiman berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

Namun begitu, Basya mengingatkan kepada para pembacanya, bahwa penelitiannya peninggalan Nabi Sulaiman di Indonesia memberi penekanan kepada nama tempat. Khususnya mengenai kisah Indonesia Negeri Saba yang hilang dan penyebutan Ratu Boko.

"Pemakaian istilah Ratu Boko dalam penelitian ini sekedar (untuk) mengenali tempat, karena tempat itu sekarang bernama Istana Ratu Boko, bukan untuk mengatakan bahwa Ratu Saba (atau Ratu Balqis) sama dengan Ratu Boko," sambung Basya.

Kendati demikian, tentang benar dan tidaknya penelitian Basya, dikembalikan lagi kepada pembaca yang budiman. Karena sebagai karya ilmiah, bukan hal yang mustahil penelitian itu akan ditinjau ulang. Wallahualam.

Sebagai catatan, pada Minggu 13 Juli 2014, cerita pagi mengulas sekilas tentang Indonesia Negeri Saba yang hilang. Tulisan ini merupakan rangkaian dari teori Basya yang menyebut Nabi Sulaiman meninggal di Indonesia.