Terbuai Indahnya Surga… (Kisah Nabi Idris as)
PERISTIWA pembunuhan Habil oleh Qabil, memunculkan potensi kejahatan manusia di bumi. Sejak saat itu, bumi tidak lagi hanya dihuni oleh ‘kebaikan’ (orang-orang yang baik). Untungnya, tidak lama setelah peristiwa ini, nabi Adam as dan Siti Hawa dikaruniai putra bernama Syits, yang memiliki tabiat yang menyerupai kakaknya, Habil. Dari keturunan (Nabi) Syits inilah kemudian lahir nabi Idris as yang ditugaskan Allah Swt. memberi peringatan pada keturunan Qabil (bani Qabil).
Nabi Idris as adalah keturunan keenam
nabi Adam as. Silsilah lengkapnya adalah Idris bin Yared bin Mahalail
(Mahalaleel) bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam as. Nabi Idris
as dikenal dengan nama Akhnukh (Alkitab: Henokh), diperkirakan hidup
antara tahun 4533 sampai 4188 SM. Ia lahir dan tinggal di Babil, Iraq.
Ada juga yang menyebut ia lahir dan tinggal di Munaf, Mesir. Mungkin
saja, pada zaman Nabi Idris as Iraq dan Mesir masih merupakan satu
kesatuan wilayah (belum terpisah seperti saat ini). Dalam Quran, nama
Idris disebut dua kali, dalam Surah Maryam ayat 56-57 dan Surah
al-Anbiya ayat 85-86.
Nabi Idris as dikaruniai Allah Swt dengan
beberapa kepandaian, di antaranya ilmu hitung, ilmu perbintangan,
menunggang kuda dan menjahit pakaian. Sejak kecil ia sudah pandai
membaca Sahifah (lembaran tertulis) yang diajarkan ayahnya. Ia kemudian
menerima wahyu dari Allah Swt melalui malaikat Jibril sebanyak 30
Sahifah yang berisi ajaran agama yang harus disampaikan pada ummatnya,
Bani Qabil. Selama menjadi nabi, ia pernah menyelamatkan ummatnya dari
azab Allah berupa kemarau panjang. Ada yang mengatakan usia Nabi Idris
as 345 tahun, ada yang mengatakan 308 tahun, tapi ada juga yang
mengatakan ia mendampingi ummatnya hanya sampai usia 82 tahun.
Nabi Idris as adalah salah satu hamba
pilihan Allah Swt, yang diangkat ke langit untuk menyaksikan Surga dan
Neraka dalam keadaan hidup. Melalui Nabi Idris as, Allah Swt
mengingatkan pada ummat manusia bahwa Surga dan Neraka itu ada. Bahwa
kejahatan pada akhirnya akan berujung Neraka dan kebaikan akan mengantar
seseorang ke Surga. Tapi, setelah menyaksikan Neraka dan merasakan
berada dalam Surga, Nabi Idris as tak ingin lagi kembali pada ummatnya
dan memohon kepada Allah untuk tetap berada dalam Surga dan Allah
mengabulkannya!
.
Dalam
perkembangan terkini, ada dugaan Nabi Idris adalah Sidharta Budha
Gautama karena adanya persamaan konteks waktu, tempat dan sejarah hidup
antara keduanya…
.
Para ulama tafsir menjelaskan, Nabi Idris
as diwafatkan di salah satu Surga, yaitu di langit keempat. Dalam
salah satu hadits riwayat Abbas bin Malik disebukan Nabi Muhammad SAW
sempat bertemu dengan Nabi Idris di Syurga keempat pada peristiwa Isra
Mi’raj (HR Bukhari).
Itulah Nabi Idris as. Mendapat
keistimewaan menyaksikan Neraka dan merasakan Surga sebelum kematian.
Dan akhirnya diberi rahmat untuk tinggal di Surga, di langit
keempat. Berikut ini adalah beberapa nasihat Nabi Idris yang
ditinggalkan untuk ummatnya:
(1) Kesabaran yang disertai iman kepada Allah (akan) membawa kemenangan;
(2) Orang yang bahagia adalah orang yang waspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal salehnya;
(3) Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa, maka ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula (untuk) puasa dan salatmu;
(4) Janganlah bersumpah palsu dan janganlah menutup-nutupi sumpah palsu supaya kamu tidak ikut berdosa;
(5) Taatlah kepada rajamu dan
tunduklah kepada pembesarmu serta penuhilah selalu mulutmu dengan ucapan
syukur dan puji kepada Allah;
(6) Janganlah iri hati kepada
orang-orang yang baik nasibnya karena mereka tidak akan banyak dan lama
menikmati kebaikan nasibnya;
(7) Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya;
(8) Tanpa membagi-bagikan nikmat
yang diperolehnya, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas
nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.
Nabi Idris as terkenal karena
kecerdasannya. Itulah alasan Allah Swt. menyebutnya Idris (bahasa Arab:
Daras, artinya rajin belajar). Dalam sejarah peradaban manusia di muka
bumi, Nabi Idris-lah yang menemukan dan memperkenalkan tradisi menulis
(baca juga artikel ini: Penulis Pertama di Bumi).
Kitab Henokh yang sangat populer dan kontroversial diduga merupakan
karya Nabi Idris as. Kitab ini antara lain berisi penjelasan tentang
Lemuria, Atlantis, yang tenggelam di lautan pasifik (mengenai hal ini,
baca juga artikel ini: Nabi Idris Menulis tentang Lemuria?).
Dalam perkembangan terkini, ada teori yang menduga Nabi Idris as adalah
Sidharta Budha Gautama karena adanya persamaan konteks waktu, tempat
dan sejarah hidup (baca artikelnya: ini dan ini).
Teori ini memang kontroversial, tapi sebagai wacana, tidak ada salahnya
untuk dibaca. Toh, kebenaran pada akhirnya hanya milik Allah
Swt.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda